Monday, March 16, 2009

Pencuri Kue 1

Aku Sylvia. Aku punya beberapa teman dekat, namanya Adrian, Revan dan Anggia. Awalnya, kami sama sekali tidak dekat. Tapi itu dulu, sebelum kami tahu bahwa kami sama-sama pecinta kue. Kami suka kue yang sama. Gateau Opera, Shortcake, Tiramisu, Eclair, hingga cookies-cookies imut nan renyah pun jadi kesukaan kami.

Suatu hari, Ayah Anggia pulang kerja dengan satu box SUPER besar bertuliskan "MAXIMUS Crowd de Cafe". Itu adalah cafe cake super enak. Kue-kue kesukaan kami yang enak-enak asalnya dari sana, MAXIMUS.
Anggia cerita, ternyata Ayah Anggia baru pulang dari presentasi saham dengan perusahaan besar yang terkenal. Perusahaan besar itu tertarik lalu bersedia membeli saham itu dengan harga tinggi. Sebagai peringatan keberhasilan itu, Oom Kafka (ayah Anggia) membeli satu box super guede berisi kue-kue yang tadi. Ia berniat membaginya pada kami.
Akhirnya, kami memutuskan akan mengadakan acara makan kue kecil-kecilan pada hari Jumat sore, yang jatuhnya besok. Acara itu akan diadakan di rumah Anggia.

* * * * *

Hari Jumat akhirnya tiba. Aku tidak sabar menunggu acara nanti sore.
Saat aku sedang mengisi waktu untuk menunggu, Revan menelponku.
"Hallo, ini Sylvia bukan?" tanya Revan di ujung telepon.
"Ya, ini Sylvia. Revan, ya? Ada apa?"
"Bisa nggak, kamu ke rumah Adrian sekarang?" suaranya terdengar panik, membuatku jadi bingung.
"Lho, kenapa?"
"Terlalu rbet untuk dijelaskan lewat telepon. Kalau bisa, cepat kamu kesini. Kami bertiga sudah ada didepan rumah Adrian," tukas Revan.
"Oh, baiklah,"
"Bagus. Kami tunggu," katanya. Lalu Revan memutuskan telepon. Aku segera berganti baju dengan overall jeans, lalu bergegas ke rumah Adrian.
Sesampainya disana, kulihat Anggia, Revan dan Adrian sudah berkumpul didepan rumah Adrian. Raut wajah mereka tampak gelisah. Aku jadi tambah bingung. Aku menghampiri mereka. Begitu melihatku, kulihat kelegaan menjalar dimuka Revan.
"Sylvia!" serunya.
"Ada apa, sih?" tanyaku bingung.
"Begini, ada sebuah insiden terjadi," kata Adrian.
"Insiden apa?"
"Kue-kue itu semuanya hilang. Tanpa berbekas," sahut Anggia lesu.
"Kue yang buat nanti sore itu?" tanyaku lagi. Kali ini aku panik. Anggia mengangguk.
"Lalu, kita harus gimana? Kan no cake no party!" kataku. Revan mengangguk setuju.
"Gak ada cara lain. Kita harus menyelidiki," kata Adrian. Aku saling pandang dengan anggia, lalu Revan.
"Oke," kataku. "Lets do it!"

No comments:

Post a Comment