Friday, April 03, 2009

Perpisahan Selamanya 4 (tamat)

   "Zilfa!" Teriakku pilu. Mama dan Papa langsung memelukku. Tante Fira lemas, lalu pingsan. Oom Ardian (Papa Zilfa, aku baru ingat namanya) tampak shock berat, terpukul.Maklum, Zilfa kan anak semata wayang.

    Air mataku mengalir deras. Meratapi kepergian sahabatku. Ketika Dokter sudah mempersilakan kami untuk melihat Zilfa untuk terakhir kalinya, aku dituntun oleh Papaku, karena kakiku masih gemetar hebat, sehingga agak susah berjalan.

    Aku masih benar-benar tidak percaya bahwa seseorang yang ditutupi kain putih didepanku adalah seorang Zilfa. Baru tadi ia tertawa bersamaku, baru tadi ia meminta dibuatkan blog, baru sebentar aku memegang tangannya... Sekarang dia telah pergi, Zilfa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dalam usia yang sangat muda. 

*********************

    Aku mengelus batu nisan yang bertuliskan:

   Zilfa Annabila Putri, 4 Februari 1997-19 Agustus 2008

   Aku masih tidak percaya, bahwa Zilfa, Zilfa sahabatku, sahabatku yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka, sudah menyatu dengan bumi yang kupijak saat ini. Mataku mulai terasa panas lagi. Setelah mengusap-usap nisan Zilfa beberapa kali, aku beranjak pergi. Ketika aku sudah berjalan beberapa langkah, ada angin menerpaku. Aku hanya memejamkan mata sebentar, lalu ketika aku membuka mata, aku melihat bayangan Zilfa.

   "Karin..." Katanya. Apa ini nyata?

   "Zilfa..?" Tanyanya. Ia tersenyum senang. Senyum khas Zilfa.

   "Karin... Aku cuma mau bilang, jangan sedih terus ya, waktu aku nggak ada! Oh ya, kamu nggak usah nepatin janji kamu yang waktu itu! OK?" Kata Zilfa.

    Aku tersenyum simpul. "OK!" Kataku. Zilfa tersenyum senang, lalu bayang-bayangnya mulai menghilang perlahan...

    Dadah, Zilfa! Aku nggak bakal pernah ngelupain kamu!

No comments:

Post a Comment